Minggu, 18 Oktober 2015

Menuju Kampung Waerebo Dari Labuan Bajo

Kampung Waerebo Yang Hangat Akan Sambutan Dan Kebersamaannya
Kampung Waerebo
Selasa, 18 Agustus
            Kami menyewa mobil avanza mas Apid pemuda asal Ruteng yang sebelumnya telah kami hubungi dan kemudian kami berangkat dari Labuan Bajo jam 04.00wita menuju Desa Denge, ya Desa Denge adalah desa terakhir yang akan kami lalui sebelum berjalan atau trecking menuju kampung Waerebo. Semua wisatawan yang  ingin berkunjung menuju ke Waerebo haruslah singgah didesa ini dulu tepatnya di Homestay Pak Blasius Monta. Sekitar 7 jam perjalanan menuju Denge ini dari Labuan Bajo, jalannya berkelok-kelok kayak jalur selatan Jawa Barat. Pemandangnya sangat lah indah jalan semakin menanjak dan udara pun semakin dingin nan  segar, gak lama gw pun ketiduran. Oh ya dalam 1 mobil ini kami tumpuk 8 malah 9 sama driver mas Apid, posisi tempat duduk yaitu depan 2 tengah 4 belakang 3, Yap ditengah 4 termasuk gw sedih gak tuh?? Posisi duduk kami waktu itu dengkul hampir ketemu jidat, sikut ketemu sikut untung gak bibir ketemu bibir ehehe. Tapi mau gimana lagi sebenernya kalo 8 orang kita diharuskan menyewa mobil elf bukan mini bus gini yang sebenernya kapasitasnya hanya 6-7 orang, lataran kondisi muka kami yang pas-pasan eh kantong kami yang pas-pasan maksudnya yasudah kami nikmatin lah perjalanan ini, namanya juga lika-liku perjalanan ya kalo mau nyaman dan asik silahkan jalan-jalan sama keluarga masing-masing aja sana ahaha.
Pertigaan Pela (Otokol Ruteng-Dintor)
Sekitar jam 11.00 wita kami sampai di Denge Homestay Pak Blasius Monta, keluar mobil langsung bretekin badan aduuuh pinggang berasa mau copooot. Kami pun numpang istrahat sebentar untuk sekedar membersihkan badan dan memesan makanan, setelah kita selesai makan lalu kami pun diantar menuju kampung Waerebo oleh 1 orang guide yang akan membimbing kita. Banyak pengetahuan yang gw dapat tentang Waerebo ini dari guide kami yang bernama Pak Sebastian ini, yang paling menarik perhatian gw saat itu adalah waktu dia menjelaskan tentang sosok yang bernama pak Yori Antar dan ibu Tirto Utomo. Pak Yori Antar ini adalah orang Jakarta yang pada tahun 2008 pernah berkunjung ke Waerebo saat itu rumah adat atau biasa disebut mbaru niang di Waerebo hanya tersisa 4 buah rumah dari 7 rumah yang dibangun sejak dahulu, sedangkan 3 buah rumah sisanya telah habis dimakan usia, sedangkan ibu Tirto Utomo adalah seorang donatur yang akhirnnya membantu melestarikan dan menjaga salah satu kebudayaan Indonesia ini dengan membagun rumah-rumah adat di Waerebo. Yang hebatnya lagi pada tanggal 17 Agustus 2015 kemarin ternyata pak Yori datang untuk mengikuti upacara di Waerebo, keren men sumpah sayang gw kelewat sehari untuk bertemu dengan salah satu orang yang sangat berjasa terhadap kampung Waerebo ini. Oh ya dalam perjalanan menuju Kampung Waerebo ini mas Bagus begitu gw manggilnya tidak ikut, dia lebih memilih istirahat di homestay pak Blasius mungkin karna tidak enak badan karna waktu diperjalanan menuju Denge tadi dia sempet muntah-muntah dijalan ahaha *ngakak*. Cerita Perjanan Pak Yori Anwar Beserta Rombongan Menuju Kampung Waerebo Yang Hampir Punah
Harga Tahun 2015 di Wae Rebo
Replika Mbaru Niang (rumah adat waerebo)
 Start treking melewati SD Desa Denge
Kampung Waerebo ini berada diketinggian 1.100 mdpl sering juga disebut sebagai negeri diatas awan, terletak disebuah dusun terpencil di Desa Satarlenda, Keamatan Satarmese Barat, Kabupaten Mangarai Barat yang dapat ditempuh sekitar 4 jam dari Ruteng. Jalur Waerebo itu dimulai dari Denge - Waelomba (1j30m) - Pocoroko (1j30m) - Waerebo (1j) Di jalur treking kami berpas-pasan dengan salah satu penduduk Waerebo yang turun kebawah ingin menjual hasil tanamnya dengan badan tinggi kekar kulit coklat gelap muka sangar dia pun menyapa kami dengan lembut ah siyaal orang Flores memang begitu ramah, sopan dan selalu melemparkan senyum dengan tulus. Kalo gak percaya tunjukan sedikit senyuman kalian maka niscaya mereka akan memberikan senyumannya yang lebih lebar dari kalian, ada lagi kata orang Flores “sekali orang Flores menebarkan senyumannya, hilanglah wajah neraka mereka” wuuiii saluut gak tuh.
Jalur menuju Waerebo BERSIH TAK ADA SAMPAH!!
7 pesan masyarakat Waerebo
 Sekitar jam 16.15wita kita sampai Waerebo sudah terlihat rumah-rumah yang berbentuk kerucut itu, salah satu pesan yang sangat penting yang disampaikan oleh pak Sebastian ini adalah jangan mengambil gambar atau video Waerebo sebelum melakukan upacara adat penyambutan tamu bahkan ini pun tertulis didalam peraturan resmi wisata disana. Soal kepercayaan dan budaya adalah hak dasar setiap orang atau sekelompok orang, kita sebagai pengunjung atau pejalan ibarat seperti  “bertamu dirumah orang lain” hal yang mutlak kita harus lakukan yaitu dengan menghormati budaya dan tradisi sang “pemillik rumah” so respect to people wherever you go Tamu pun harus berhenti dahulu disebuah rumah pos terakhir untuk membunyikan bel dari bambu, bunyi bel tersebut menandakan bahwa ada orang asing atau tamu yang datang dan para penduduk lokal harap bersiap-siap untuk menyambutnya. 
Rumah Gadang tempat tinggal ketua adat Waerebo
Setelah sampai kami pun langsung masuk menuju rumah kerucut paling besar tersebut atau Rumah Gadang, rumah induk tempat tinggal ketua adat. Rumah adat Waerebo ini disebut juga dengan Mbaru Niang, rumah ini terdiri dari 5 tingkat nahlu dan masing-masing tingkat mempunyai fungsi sendiri, tingkat 1 yaitu “Lutur” yang ditempati untuk aktifitas dalam rumah kayak masak tidur dan ngobrol-ngbrol lah, tingkat 2 yaitu “Lobo” untuk menyimpan bahan makanan dan barang-barang lainnya, tingkat ke 3 yaitu “Lentar” untuk menyimpan benih seperti jagung, padi dan lain-lain, tingkat ke empat yaitu “lempa Rae” untuk stok cadangan makanan, tingkat ke 5 “Hekang Kode” digunakan untuk menyimpan langkar (anyaman dari bambu berbentuk persegi guna menyimpan sesajian buat leluhur), dalam 1 rumah Mbaru Niang ini dapat di isi oleh 6 kepala keluarga nahlu rame beneeer. Setelah selesai kami pun memberi uang kepada ketua adat sebagai simbol persembahan dan memberi uang kepada pengurus Waerebo karna kami ingin menginap Rp325.000/org buset berat banget ngeluarin dompet saat itu, lalu kami pun keluar untuk menikmati suasana Kampung Waerebo yang telah mendunia ini karna pada tahun  2012 Waerebo telah dinobatkan sebagai salah satu konservasi warisan budaya dari UNESCO Asia-Pasifik dan menjadi salah satu kandidat peraih Penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur tahun 2013. Lalu kami pun masuk kerumah sebentar untuk mencicipi kopi Waerebo yang khas itu, “mama tolong kau buatkan kopi 1 untuk ku mama” karna gw orangnya hobi ngopi apalagi kopi ireng yaa gilaaaak ngopi teruuss laaaah ampe puuaaass mantaaffff ahaha.
Ketua Adat Kampung Waerebo Pak Alex dan Arya
Menumbuk Kopi Waerebo
Kegiatan Menjemur Biji Kopi 
            Kami membawa sedikit permen dan coklat untuk berbagi dengan anak-anak dikampung Waerebo ini, semua orang disana sangatlah ramah dan sederhana mereka juga sangat baik dan luar biasa menghargai para tamu. Berbicara dan berinteraksi bersama mereka semua disana bikin gw senang, bahagia, takjub, salut dan makin jatuh hati terhadap masyarakat di tanah Flores ini, “Happiness is only real when shared” Chirstopher McCandless. Gw pun ngobrol dengan salah satu pemuda Waerebo terus gw pun diajak menuju Rumah Taman Baca untuk menikmati panorama Waerebo dari ketinggian, lalu malam pun datang kami beristirahat tidur diatas anyaman rotan yang sangat nyaman.
Anak Waerebo
Rumah Taman Baca Waerebo
Sore di Kampung Waerebo
Makan Malam Bersama
Rabu, 19 Agustus
            *Uhuuk uhuuk uwek uwek cuih* gw pun terbangun karna kepulan asap yang dibuat para mama yang sedang memulai memasak, ya letak dapurnya berada ditengah rumah bukan dibelakang atau disamping wajar aja kalo batuk dan hati suka pedih eh mata suka pedih maksudnya. Dengan muka lusuh mata belekan ileran ingusan gw pun nyamperin mama “Mama kopi 1 boleh mama” pesen kopi lagi gw ahaha baru keluar buat nikmatin sunrise agak kesiangan si sekitar jam 06.00wita gw menuju spot sunrise yaitu Rumah Taman Baca yang diantar pemuda Waerebo kemarin sore.
Para Mama sedang masak
Berlagak sok kuat padahal maaah paling loyo :p ahaha @fildzaainunn
Setelah sarapan kami pun harus melakukan perjalanan kembali menuju destinasi selanjutnya yaitu Danau Kelimutu, kami mulai turun menuju Denge sekitar jam 10.15wita dtemani kembali oleh pak Sebastian. Diharapkan untuk memakai sepatu atau sandal gunung jangan kayak gw yang dari Jakarta cuman make sandal jepit ijo sualow *yaakumahapaatuh* gapapa deh kalo kata si Uga @goresanpejalan mah GGS Ganteng Ganteng Sualow ahaha het bolang. Sampai homestay pak Blasius kami pun langsung istirahat sejenak dan melihat kondisi kawan perjalanan kami yaitu mas Bagus, tak diduga tak disangka ternyata dia pulang duluan buseeet gak bilang-bilang itu orang disitu gw bukan kecewa apalagi kecowa tapi gw jadi ngerasa gak enak mungkin dia sakit lelah kecapean atau apa  karna gw akuin emang trip ini bener-bener menguras fisik kami. 
Meninggalkan Waerebo Yang Hangat Akan Kebersamaan
Bersama Pak Sebastian Guide Kami
Kami pun melanjutkan perjalanan ke Danau Kelimutu, disini mas Apid ternyata bilang tidak sanggup untuk mengemudi sendirian dari Denge terus Moni Danau Kelimutu kemudian pulang ke Labuan Bajo. Wajar si lantaran perjalanan yang sangatlah jauh, akhirnya dia pun meminta bantuan ke temannya yang ada di Ruteng sekalian berangkat dengan berat hati kami pun menyetujuinnya, kami pun berangkat dari Denge sekitar jam 15.30wita. Sesampainya di Ruteng kami pun bertemu dengan temannya mas Apid yaitu bang Airin begitu gw manggilnya langsung aja kami meminta tolong dan langsung nego harga untuk membantu membawa mobil mas Apid ini jadi kami ada 2 driver harga pun sepakat di Rp.500.000. Jalurnya gelap gulita hawa yang mencekam seperti menyelimuti jalur trans Flores ini setelah melewati Ruteng, dimobil kami malah diceritain yang serem-serem sama bang airin dan mas Apid buset baaaang ampuun apalagi deket jalur Danau Ranamese yang konon katanya pernah ada *tuuuuut**skip* kejadian yang menyeramkan munculnya sosok tubuh seseorang yang tanpa kepala, dan seorang kakek-kakek yang bila kita melihatnya setidaknya memberikan rokok atau kita tidak bisa lewat.

Mengejar Sunrise Di Danau Kelimutu

Sabtu, 10 Oktober 2015

Live On Board 3d2n, Sailing Trip The First Time In My Life!! Part 3

Hari Ke 3 Bertepatan Dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Raya Yang Ke 70
Senin, 17 Agustus
Saat itu adalah hari senin yang paling indah dan besejarah dalam hidup gw, karna hari itu bertepatan dengan hari Kemerdekaan Republik Indonesia Raya yang ke 70. Jayalah Indonesia ku tercinta, Merdeka!!!
Hari Kemerdekaan Republik IndonesiaYang Ke 70
Pada 17 Agustus 2015 
         
Sesuai dengan rencana awal yaitu kami harus dapet Sunrise di Pulau Padar dan gw pun bangun untuk menemani mas Supardin, kapal mulai berangkat jam 04.00 wita buset gokiiil ni mas Supar. Ini adalah pengalaman gw diatas kapal yang paling menegangkan sekaligus salut sama beliau, karena beliau mengemudikan kapalnya ditengah malam yang masih gelap gulita tak perduli seberapa besar ombak yang menerjang. Para abk nya pun masih tertidur kami berdua hanya ditemani oleh taburan bintang yang sekaligus menjadi petunjuk arah untuk menuju Pulau Padar. Hari ini adalah hari kemerdekaan Indonesia yang ke 70 kami dengan bangga selalu membawa dan mengibarkan sang bendera merah putih ini, kami akan terus mengenangmu para pahlawanku yang rela mengorbankan nyawa demi tanah air tercinta ini. Ku panjatkan doa untuk mengenang jasa-jasa mu dan engkau yang gugur di  udara birukanlah langit Indonesia ini, engkau yang gugur di  daratan suburkan dan damaikanlah tanah di bumi pertiwi ini, dan engkau yang gugur di  lautan redamkanlah gelombang di negeri ini, salam hormatku padamu semoga engkau tenang dan damai di alam sana. Merdeka!!!
            Balik ke kapal sarapan terus leyeh-leyeh sembari ngopi nikmatnya hidup gw pada pagi hari ini, makan teratur 4 sehat 5 sempurna ngopi ngeteh semaunya ada pisang goreng setiap pagi, setiap hari bangun pagi gak liat tembok yang gw liat laut yang biru, pantai yang bersih, pulau yang eksotik, dan elub pake bikini *eh ,tertawa melihat tingkah laku si abk licik Riki kardus halaaaaah abang tak kuat dek sadar akan ini sudah menginjak hari ketiga dan esok kami akan melanjutkan perjalanan ke Waerebo. Setelah perut kenyang kami melanjutkan ke destinasi selanjutnya , Riki sang abk pun melepaskan ikatan tali dipohon kemudian mengangkat jangkar, destinasi selanjutnya yaitu kami akan menuju Pulau Kelor. Sesampainya dipulau Kelor kalo yang lain pada asyik snorkeling dan bermain dipinggir pantai gw seorang diri menuju bukit untuk melihat pemandangan dari ketinggian, bukannya gw gak mau nyemplung kulit ini sudah sangat ireng men mending gw ngadem dibawah pohon menikmati panorama Pulau Kelor ditemani oleh angin yang sepoi-sepoi.
Pada asik updateee *iri gegara gak ada sinyal*

Pulau Kelor

Pulau Kelor, Biar kayak orang2 pose poto dari belakang

          



















Lanjut berlayar menuju destinasi terakhir dalam sailing trip ini yaitu pulau bidadari, walaaaah mayan pulang-pulang bawa bidadari euy. Banyak kapal yang merapat menjadikan pulau ini sebagai destinasi terakhir karna jaraknya yang dekat dengan sekali dengan Labuan Bajo. Kami menghabiskan waktu dipulau ini dengan santai duduk-duduk ditepi pantai menikmati pemandangan sekitar *lirik kanan* elub ganti kutang, *lirik kiri* elub bejemur, *mandang lurus kedepan* elub hilir mudik make bikini, *lirik kebawah* adek gw ngedongak ternyata ahaha. Lapar memanggil kami langsung naik ke kapal untuk makan Siang sekaligus menuju Labuan bajo yang berarti sailing trip ini berakhir sampai disini. Sedih?? Kenapa gw harus merasa sedih, Belom puas atau kurang senang?? Loh disini gw sangat senang ko bahagia malah dan juga mendapat kepuasan serta kenangan dari keindahan alam Kepulauan Komodo bersama Mas Supardin, Riki kardus, mba Aisyah, dan Haidar. Tapi kenapa hati ini kayak ada yang ngeganjel, seperti tak rela melepaskannya. Mungkin kata yang tepat untuk saat itu adalah Rindu, Yaa!! Rindu!! kami pasti akan rindu saat-saat kebersamaan kami didalam kapal terombang-ambing diatas laut flores yang berlayar diantara pulau-pulau nan eksotis. Merasakan mentari pagi yang menyegarkan jiwa, waktu siang bermandikan cahaya matahari yang terik menampar kulit, saat senja yang sangat romantis diiringi suara deburan ombak yang merdu seperti alunan musik instrumental, dan tertidur di malam yang dingin diselimuti oleh gelapnya langit dan taburan bintang.

PAKET MURAH SAILING TRIP KEPULAUAN KOMODO 3D2N

Menuju Kampung Waerebo Dari Labuan Bajo

Live On Board 3d2n, Sailing Trip The First Time In My Life!! Part 2

Hari Ke 2 Kampung Komodo Yang Sederhana Tapi Mengagumkan

Minggu, 16 Agustus
            Kemilau mentari di ufuk timur menjanjikan sejuta kebahagiaan, hujan semalam habis tersapu oleh cahaya matahari yang menebarkan hangatnya dalam pelukan semburan cahayanya. Selamat pagi kawan seperjalanan buset banguuun jangan tidur mulu lu kira ni rumah nenek pada pules-pules banget tidurnya ahaha. Gw, Faiz, Dablang dan Uga langsung lompat dari kapal menuju bukit Gili Lawa lagi untuk berburu sunrise jangan tanya yang lain, yang lain masih belom bisa mup on dari matras kesayangan dan selimut jagoannya. Setelah nikmatin sunrise diatas bukit sekarang gw nikmatin sunrise di atas kapal, pagi yang indah yaitu ketika tangan kiri megang segelas kopi ireng, tangan kanan megang pisang goreng, sebatang rokok filt*r menancap tepat dibibir, dan mentari pagi yang perlahan timbul dibalik bukit. Selamat Pagi!!
Nikmatnya pagi ku ini, kapan bisa kayak gini lagi yak???














Sarapan heula














  
Perlahan kapal pun mulai berangkat ke Manta Point, disini adalah pengalaman gw yang paling kocak dan malu juga si sebenernya karna saat sang kapten melihat 2 ekor Manta gw pun disuruhnya untuk nyemplung langsung padahal ntu laut warnanya masih biru tua yang pasti dalem banget. Tapi dengan bodohnya dan saking nafsunya gw pun melompat dengan sekali tarikan nafas sambil memegang kamera underwarter jagoan lalu gw pun menyelam. Gambar Manta pun didapat dan saat gw muncul kepermukaan kapal pun agak terlihat jauh menurut gw, karna saking paniknya yang gw rasakan saat itu adalah badan gw ketarik arus huuuaaaa ni laut dalem meeen dan gw sendirian pula. Saking paniknya paha gw pun jadi keram dan gw pun berenang melipir tampan ke kapal yang sedang melaju perlahan dari arah samping kiri gw dan akhirnya gw numpang kapal bersama sepasang bule yang cewenya pake bikini mayan rezeki anak soleh ehehe.



 Abis itu gw pun balik lagi ke kapal dan melihat teman-teman yang lain berenang bersama Manta, oh ya jenis ikan Pari Manta atau Manta Ray ini baik tidak beracun dan tidak mematikan pula, gak kayak Mantan yang nyakitin dan bikin trauma eh *salah fokus* maksudnya gak kayak ikan Pari sejenisnya yaitu Sting Ray yang mematikan.
Kapal mas Supardin











Mas Supardin lagi nyari mantan eh manta











Manta Ray






Selesai berburu manta



















Setelah puas berenang bersama Manta kami pun menuju destinasi selanjutnya yaitu Pantai Ping atau Pink Beach dadaaaah Mantaann eh Mantaaaa, dalam perjalanan kami diiringi dengan pasukan lumba-lumba yang berenang melompat-lompat disamping kanan kapal kami ah sayang kamera gw lagi di caass huuaaa. Tak membutuhkan waktu yang lama kami pun sampai di Pink Beach ini, dari kejauhan terlihat kapal yang makin lama semakin mendekat mereka menawarkan untuk mengantarkan kami ke pantai dengan biaya Rp20.000 PP. Yap memang semua kapal yang datang ke Pink Beach ini tidak di ijinkan untuk terlalu mendekat ke bibir pantai dan melempar jangkar hal ini untuk melindungi koral-koral yang ada diseputaran pantai. Karna niat gw mau menikmati indahnya bawah laut Pink Beach ini gw pun menyelam menuju bibir pantai sekitar 20 meteran lah, sayangnya gw gak pake fin jadi pegel juga belum lagi arus yang mengarah ke karang jadi gw berenang agak nyerong ke kiri alhasil gak sempet foto-foto daann sangat menyesaaal. Sesampainya dibibir pantai gw pun langsung menuju salah satu bukit untuk menikmati pemandangan dari ketinggian, benar-benar indah lengkungan bibir pantai yang berwana Ping itu rasanya mau ku ketjup saja *mmuaachh.
Pink Beach dari kejauhan

Panorama Pink Beach dari atas bukit

Om Hari terdampar


            Lanjut berlayar menyambangi Taman Nasional Komodo, yap kami akan melihat langsung habitat hewan purba yang merupakan binatang langka yang hanya terdapat di Indonesia yaitu di Pulau Komodo. Setelah melapor dan membayar administrasi memasuki (TNK) Rp. 300.000 untuk 8 orang ini harga pelajar dan sudah termasuk 2 ranger, ranger merah dan biru ahaha candaa. Ranger disini bukan power ranger yang di tipi-tipi, ranger disini adalah pawang nya komodo yang akan ngebimbing dan melindungi kami. Kami memilih medium trecking, setelah briefing selesai kami berjalan didampingi 2 ranger 1 didepan dan 1 lagi dipohon nahlu ya dibelakanglaaah lu kira Naruto ehehe. Kami banyak diberi informasi tentang habitat Komodo ini terakhir diteliti populasi Komodo ini berjumlah 2.915 ekor yag tersebar dikepulauan komodo seperti di Pulau Padar, Pulau Rinca, Gili Motang, kami pun diberi informasi termasuk kejadian-kejadian tentang penyerangan binatang buas ini terhadap para ranger dan pengunjung ada yang cacat ada yang sampai meninggal wow ngeri kalii!! Setelah selesai kami pun menuju kampung komodo menggunakan kapal sekitar 15 menit untuk bertemu mas Guri Ridola @langkahjauh, ia seorang solo traveler dari Padang sudah hampir 3 bulan beliau menetap di kampung komodo ini dan sekarang mengajar di SDN Komodo sebagai guru bahasa inggris the best lah uda Guri ini ehehe. Kami diantar untuk berkeliling kampung komodo sambil menyapa para penduduk yang begitu ramah ini, mereka tinggal dirumah yang sangat sederhana yang mereka bangun seperti rumah panggung. Dan kami pun diantar ke rumah seorang legenda hidup pembuat patung Komodo pertama yaitu bapak haji Nuhung yang harganya konon bisa mencapai hingga puluhan juta nahlu. Mas Guri ini numpang tinggal dirumah bapak Suhardi, gw sebenernya mau banget mandi pas ditawarkan suruh pakai kamar mandi tapi apa daya gw males banget untuk menyentuh air tawar biarlah kali-kali tubuh ini merasakan air asin terus siapa tau entar gw jadi jago berenang *gaknyambung* *abaikan*. Mas Guri menceritakan tentang perjalanan panjangnya yang dimulai sejak tanggal 1 Januari 2015 dari Padang  hingga bisa sampai di Kampung Komodo ini banyak pegalaman beliau yang gw serap apalagi tentang cara menumpang dengan truk ehehe, tak berapa lama bapak Suhadi pun datang sehabis memancing ikan ia langsung masuk kedalam sebentar lalu keluar membawa teh hangat serta kue dan perintilannya yaa kayak bisuit keripik gituu. Sambil menghisap rokok jagoannya beliau pun bercerita tentang sejarah pulau komodo dan tentang penduduk disini yang sangat erat hubungannya dengan binatang buas tersebut. Yang lucunya setelah ia bercerita tentang penduduk disini ia pun bercerita tentang 2 orang pelancong dari kota Jakarta yang ceritanya pada saat itu mungkin mereka kehabisan uang dan tak tau harus tidur dimana, setelah ditawarkan untuk menginap dirumah bapak yang baik ini saja mereka menolak karna mungkin tidak mempunyai uang atau takut nanti ditagih biaya menginap. Padahal bapak yang baik hati ini udah bilang mereka akan dianggap seperti keluarga sendiri subhanallaaah. Sedikit pesan untuk tingkat kewaspadaan dan mindset orang Jakarta kalo berkunjung keluar daerah harus diminimalkan, dan pada akhirnya 2 orang tersebut tidur di kapal yang terdampar dipinggir pantai. Setelah panjang lebar bercerita kami pun pamit menuju kapal untuk makan malam, sesudah perut kami terisi gw dan Uga pun keluar kapal duduk di dermaga bersamaan dengan mas Guri ini yang datang ke dermaga juga, dan subhanallah sudah tak terhitung berapa kali aku takjub dengan keagungan mu ya allah tentang ciptaanmu pada keindahan alam Indonesia ini. Langit di malam kampung komodo ini sungguh mempesona berjuta bintang bertaburan di langit angkasa menyelimuti gelap malam kampung komodo. Deburan ombak dan angin laut seperti menyapa lalu membisikan kata-kata indah yang sangat lembut kemudian kami pun terbujur kaku dan membisu menikmati pemandangan langit di malam ini, mengagumi keindahannya tak lelah kepala kami bertiga pun dibuat terus mendongak ke atas langit  yang sungguh indah, mempesona dan menakjubkan ini. Ya tuhan sekarang aku sadar, engkau membawa ku ke tempat ini untuk menunjukan kuasamu, keagunganmu, agar aku semakin percaya, yakin dan tunduk kepadamu, betapa beruntungnya diri ku bisa menikmati keindahan malam ini terimakasih ya tuhan.
Jembatan menuju pintu masuk TNK

Mas Bagus Pintu Masuk TNK

Faiz berlagak kayak ranger abu2 wkwkwk

Treking di pulau komodo

Treking di Taman Nasional Komodo
Bertemu sang komodo wooww mejing!

bawaannya mao gw taekin aja

Gokil gak tuuuhh!!


Awesome!! ahaha
Bersama Bapak Haji Nuhung

Anak-anak di pulau komodo sedang sparing bola ahaha

Live On Board 3d2n, Sailing Trip The First Time In My Life!! Part 1

Hari Pertama Berlayar Menjelajahi Kepulauan Komodo
Sabtu, 15 Agustus
            Setelah check out dari homestay kami langsung menuju dermaga tak lupa kami membeli jajanan cemilan cepuluh cebelas untuk dikapal nanti ehehe. Setelah persiapan selesai jangkar pun di naikan layar pun di turunkan dan kapal pun segera  berangkat, mari kita berlayaaarr kapteeen *padahal ni kapal kan pake mesin gak pake layar* wkwkwk. Dimulai dari hari ini untuk pertama kalinya gw akan tinggal di atas kapal selama 3 hari 2 malam bersama kapten Supardin yang tegas, para abk nya mba Aisyah yang penyabar, Riki kardus si gokil, dan Haidar si pemalu. Jadi teringat nyanyian dulu waktu gw kecil. “Nenek moyang ku seorang pelaut gemar mengarungi luas samudera. Menerjang ombak tiada takut menempuh badai sudah biasa. Angin bertiup layar terkembang ombak berdebur di tepi pantai. Pemuda berani bangkit sekarang ke laut kita beramai-ramai”.
Pulau Kanawa
Jembatan yang berdiri dihamparan koral yang indah

   





























Yap tujuan pertama kami yaitu Pulau Kanawa yang terkenal dengan keindahan pulaunya serta dikelilingi oleh terumbu karang yang indah dihiasi dengan pantai pasir putihnya. Pulau Kanawa adalah pulau kecil yang letaknya ada di perairan Flores, nama kanawa hampir mirip dengan nama sebuah pulau di Sumbawa Barat yaitu Kenawa. Pulau Kanawa ini sekarang dikelola oleh orang berkebangsaan Italia, di pulau seluas 32 hektar ini dibangun bungalow yang ada dibibir pantai. Setelah kapal merapat di dermaga Pulau Kanawa kami tak buang-buang waktu lagi langsung meluncur ke atas bukit untuk menikmati keindahan Pulau Kanawa dari ketinggian ditemani abk cilik eh licik si sebenernya yaitu si Riki kardus ahaha. Dari atas bukit terlihat panorama yang mengagumkan perpaduan antara gradasi warna laut dari biru tua, biru muda dan hijau tosca aahh sungguh indah!! Gak sabar setelah ngeliat birunya laut kami pun langsung kembali ke kapal, yaaap waktu nya nyempluuung. Snorkeling di sekitaran Pulau Kanawa ini seperti berjalan diatas taman, karangnya itu tampak subur tidak ada yang rusak dan visibility di Kanawa ini juga sangat bagus. 
Ikan badut dan anemon, contoh simbiosis mutualisme
E eh kenapa om Har?? wkwkw
















Faiz, Fildzah, Septi, Hari, Arya, Bagus, Uga
















Setelah puas bermain air dan menikmati pulau yang indah kami melanjutkan perjalanan yaitu menuju Gili Lawa, Gili Lawa ini adalah salah satu tempat yang gw nanti-nantikan karna pemandangan dari atas bukit yang dapat ditempuh sekitar 30 menit gili lawa memiliki landscape pemandangan yang sangat mengagumkan ditemani oleh Riki kardus abk licik yang lucu gemes imut pokoknya bawaannya mao gw cubit pipinya ampe berdarah trus gw tonjok ama gw jambak ahaha candaa ki gw sayang elu koook. Karna perjalanan kali ini dekat sekali dengan hari kemerdekaan Indonesia kami membawa bendera merah putih yang dengan bangga akan selalu kami kibarkan dalam menjelajahi kepulauan Komodo ini. Terimakasih para pahlawan kalian telah rela berjuang mati-matian demi tanah air tercinta yang memang pantas untuk diperjuangkan ku kibarkan dengan bangga bendera sang merah putih untuk mengenang jasa-jasa mu. Setelah puas bermandikan sinar matahari kami pun langsung menuju spot Sunset untuk menikmati senja. Waktu senja gak bakal gw lewatin gitu aja karna senja adalah saat terbaik menceritakan kisah-kisah rindu lu pada langit yang biru berubah menjadi oren perlahan menjadi gelap disana lu bakal  menemukan jawabannya diantara angin laut yang berhembus dan pejaman mata. Puas menikmati senja kami pun menuju ke dalam kapal karna tak lama kemudian hujan pun datang mengguyur Gili Lawa.

ditambah view kayak begini
walaupun nasi goreng tetep aja jadi
4 SEHAT 5 SEMPURNA

Ditambah kopi ireng jadi 4 SEHAT 6 SEMPURNAA!!!
Bukit-bukit gili lawa darat
Treking ke puncak gili lawa









Kukibarkan dengan bangga
 sang merah putih dipuncak gili lawa














Sunset di Gili Lawa